Arsip untuk Desember, 2006

kurban..

Posted in traffic on Desember 31, 2006 by tuan toshiro

Tidak seperti biasanya jalanan agak sepi. Maklum “tanggal merah”, Hari Raya Idul Adha, meski nanti malam perayaan tahun baru (31 desember). Motor kukebut karena harus garap revisi skripsi.

Haaahh.. akhirnya sampai juga di komplek perumahan rumah temanku. Dalam hati “untung aku punya teman yg bisa kuandalkan, kalau tidak sripsiku nggak kelar-kelar.. haha”. Anyway.. for Dewi Ikhda dan Yuniar Pratiwi.. thanks alot for helping my thessis hehe.

Pikiranku yg tadinya melayang pada rencana awal revisi skripsi tiba-tiba buyar melihat sepasang suami istri dengan motor bututnya menunggu jatah daging kurban. Mereka tampak begitu senang dengan jatahnya. Dalam hati aku bersyukur.. “Ya Allah.. terima kasih atas nikmat yg Engkau berikan padaku.” Ya, aku harus bersyukur, karena kalu melihat pasangan pasutri itu, sempat-sempatnya antre bejubel hanya untuk mendapatkan daging se-kresek yg tidak terlalu besar, yg bagiku barangkali apalah artinya, paling-paling hanya bisa untuk bikin pentol baso semangkuk.

“Ya Allah.. sekali lagi puji syukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan padaku, ampuni hamba atas keingkaran nikmat selama ini..”

Waduh.. jam 16.30 aku harus cepat-cepat, karena hari ini aku masuk jam 17.00

peradaban kota..

Posted in ringan on Desember 31, 2006 by tuan toshiro

Kalau menyebut kata kota apa yang ada dibenak Anda? gedung-gedung tinggi, jalanan macet, terburu-buru, bising, polusi, atau.. apa? paling tidak beberapa hal diatas barangkali mewakili asumsi seseorang tentang kota. Bangunan yang menjulang atau gedung-gedung sepertinya menjadi ikon kota. Memang (kalau) kita datang ke kota (untuk mereka yg dari desa termasuk saya :-) ) atau paling tidak Anda yang dari kota, berkunjung ke kota lain, pasti image awal pada gedung-gedung atau bangunannya.

Sempat tidak Anda berpikir.. gedung-gedung dan bangunan ini mampu membuat orang-orangnya berubah? Ya.. “glamor” kehidupan kota mampu menyulap pribadi yang tadinya sabar menjadi arogan, yang tadinya baik menjadi jahat, yang tadinya polos menjadi “berwarna” dan sebagainya. Tapi tidak fair rasanya kalau kita mengklaim kota berpengaruh negatif karena masih banyak dampak positif kehidupan kota, seperti tersedianya pendidikan yang menciptakan pribadi-pribadi yang bermoral dan sebagainya. Itu semua kembali pada individu masing-masing.

Melihat kehidupan kota memang kontras dengan kehidupan di desa. Bagai langit dan bumi. Jangankan kota dengan desa, kehidupan di kota sendiri juga konras. Coba tengok bagiamana megahnya gedung-gedung, mall atau perkantoran, kemudian bandingkan dengan kolong jembatan, dimana mestinya di situ hanya “kolong kosong” atau paling tidak air sungai kalau jembatannya berada diatas sungai. Kenyataannya? kolong jembatan tidak ubahnya “alternatif ruang” bagi mereka yang nasibnya tidak semujur orang-orang yang mujur. Lebih-lebih mengenaskan lagi, kondisi ini banyak kita jumpai di negara kita. Kota yang kumuh, pengangguran dimana-mana, kriminalitas, persaingan, dsb. Tapi apapun keadaanya saya masih mencintai kota ini (Surabaya), negara ini. Saya cinta Indonesia dengan segala keunikannya. Jadi ingat ucapan para pahlawan kita, Cintailah ibu pertiwi-mu.

Kalau orang Jerman berteriak lantang “Deutschland uber alles!” (Jerman adalah segala-galanya). Atau orang Catalan berteriak “Tot per Catalunya!” (semuanya untuk Catalunya), saya tidak ketinggalan “”Dulce et Decorum est pro patria mori” (Mati untuk Ibu Pertiwi adalah yang terindah dan termanis)..