peradaban kota..
Kalau menyebut kata kota apa yang ada dibenak Anda? gedung-gedung tinggi, jalanan macet, terburu-buru, bising, polusi, atau.. apa? paling tidak beberapa hal diatas barangkali mewakili asumsi seseorang tentang kota. Bangunan yang menjulang atau gedung-gedung sepertinya menjadi ikon kota. Memang (kalau) kita datang ke kota (untuk mereka yg dari desa termasuk saya
) atau paling tidak Anda yang dari kota, berkunjung ke kota lain, pasti image awal pada gedung-gedung atau bangunannya.
Sempat tidak Anda berpikir.. gedung-gedung dan bangunan ini mampu membuat orang-orangnya berubah? Ya.. “glamor” kehidupan kota mampu menyulap pribadi yang tadinya sabar menjadi arogan, yang tadinya baik menjadi jahat, yang tadinya polos menjadi “berwarna” dan sebagainya. Tapi tidak fair rasanya kalau kita mengklaim kota berpengaruh negatif karena masih banyak dampak positif kehidupan kota, seperti tersedianya pendidikan yang menciptakan pribadi-pribadi yang bermoral dan sebagainya. Itu semua kembali pada individu masing-masing.
Melihat kehidupan kota memang kontras dengan kehidupan di desa. Bagai langit dan bumi. Jangankan kota dengan desa, kehidupan di kota sendiri juga konras. Coba tengok bagiamana megahnya gedung-gedung, mall atau perkantoran, kemudian bandingkan dengan kolong jembatan, dimana mestinya di situ hanya “kolong kosong” atau paling tidak air sungai kalau jembatannya berada diatas sungai. Kenyataannya? kolong jembatan tidak ubahnya “alternatif ruang” bagi mereka yang nasibnya tidak semujur orang-orang yang mujur. Lebih-lebih mengenaskan lagi, kondisi ini banyak kita jumpai di negara kita. Kota yang kumuh, pengangguran dimana-mana, kriminalitas, persaingan, dsb. Tapi apapun keadaanya saya masih mencintai kota ini (Surabaya), negara ini. Saya cinta Indonesia dengan segala keunikannya. Jadi ingat ucapan para pahlawan kita, Cintailah ibu pertiwi-mu.
Kalau orang Jerman berteriak lantang “Deutschland uber alles!” (Jerman adalah segala-galanya). Atau orang Catalan berteriak “Tot per Catalunya!” (semuanya untuk Catalunya), saya tidak ketinggalan “”Dulce et Decorum est pro patria mori” (Mati untuk Ibu Pertiwi adalah yang terindah dan termanis)..