Arsip untuk Juli, 2007

Begini lho seharusnya BOLA..

Posted in traffic on Juli 20, 2007 by tuan toshiro

Saya bukan termasuk yg “GILA” olah raga, apalagi Gila beneran hehehe.. (masih setengah maksudnya wakaka.. ;-) ), Event Akbar sekelas Pala Dunia pun, gregetnya paling-paling klo udah semi final, atau pas lagi ada event nonton bareng, ngeMC, dll hehe.. jgn harap saya yg antusias banget aplagi main taruhan (soalnya gak punya duit.. :-) )lebih-lebih liat Sepak Bola Indonesia. Ya bukannya kenapa, sepak bola kita itu, udah nggak berprestasi, mainnya jelek.. yaelah pake “lempar-lemparan” lagi, siapa yg nggak BT coba liat olah raga seperti itu. Maunya dapat hiburan eh “marah-mara” aja bawaannya. Setuju nggak Supporters kita kayak gitu tipenya?!

Tapi apa yg terjadi kemaren 19 Juli 2007 di Stadion Bung Karno Senayan waktu pertandingan Tim Merah Putih Vs Korea Selatan adalah suguhan yg saya sendiri acungi berjempol-jempol untuknya. Ya Timnya, ya Supporternya. Gimana nggak, Timnas sudah menyuguhi pecinta bola permainan yg bagus meski kalah 0-1 dari Korsel, tapi teman-teman Timnas sudah menunjukk permainan berkelas. Supporter..?? Salutt!! Begitulah seharusnya. Kenapa sih kita tidak bisa jadi sportif seperti ini sebelumnya??

Semoga ini titik awal prestasi lebih baik Sepak Bola Indonesia di masa-masa yg akan datang!! OPTIMIS..

Bambang Pamungkas, dkk.. Thx for giving us a GREAT show..

Luka Sekecil Apapun Pasti Meninggalkan Bekas..

Posted in ringan on Juli 20, 2007 by tuan toshiro

Dari Email seorang Teman..

Ada seorang anak laki-laki dengan watak buruk. Ayahnya tidak menegur si anak dengan watak buruknya itu hanya memberinya sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan sesuatu, ternyata lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar. Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.

Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata :

“Anakku, kamu sudah berlaku baik, tapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada dipagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar.”

“Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka, tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya sama perihnya seperti luka fisik.”

“Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka.”