Kenapa ya “anak” nakal biasanya sukses??
Sekolah perhotelan..?? Ya SHS..!!
Gitu bunyi sebuah iklan institusi pendidikan di TV. Saya nggak akan cerita SHS-nya, tapi pendirinya. Surabaya Hotel School (SHS) didirikan Bagoes Soepomo. Jadi ceritanya kemaren itu, saya diundang makan siang sama SHS. Bukan saya aja sih, tapi teman-teman dari media lain jg. Singkat cerita saya datang ke acara itu, dan ketika saya masuk ruangan, saya liat Pak Bagus, pemilik SHS, memulai pers conferrence-nya. Saya pun duduk sambil mengamati beliau yg menjelaskan tentang acara waktu itu, termasuk penjelasan kenapa teman-teman wartawan diundang.
Jujur, saya tidak seberapa tertarik dengan explaination-nya. Saya pun membaca-baca leaflet yg disebarkan pada setiap yg hadir. di leaflet itu ada sebuah buku kecil berjudul “Merentang Matahari, Menentang Bulan”. Kisah sukses seorang Bagoes Soepomo membesarkan SHS. Di awal-awal dia mendirikan SHS, dia meresmikan bangunan-nya dengan acara ritual lintas agama. Bagi sebagian orang mungkin ini hal biasa. Tapi bagi saya, seorang Bagoes soepomo yg setahu saya orang muslim, memiliki usaha lantas mengajak siapapun penganut keyakinan mendoakan usahanya sesuatu yg tidak biasa dan tidaklah mudah. Justru yg paling banyak kita ketahui, paling-paling jika kita mendirikan usaha, yaaa.. kita doakan sesuai dengan keyakinan kita. Beda dengan Bagoes Soepomo. Jujur saja saya salut dengan-nya karena dia begitu toleran pada keyakinan lain, dimana ini bukan hal mudah.
Kalau mau jujur, banyak diantara kita mengaku toleran dengan penganut agama lain, tapi nyatanya ketika ada orang lain yg menjalankan ritual keyakinannya, kita pun mencibir!! (jika dia tidak seiman dengan kita). Tapi seorang Bagoes merendahkan hati-nya, bahwa ia butuh doa dari siapaun itu, lepas dari apa keyakinan orang itu.
Masih di acara itu, Saya pun membuka-buka buku kecil tadi, di halaman lain dari buku itu, ada tulisan gimana masa kecil Bagoes. Orang menganggap Bagoes sebagai anak yg mbethik ( nakal dalam bahasa Jawa ). Saya jadi inget omongan orang-orang, biasanya jika seseorang, masa kecilnya mbethik, gedhe-gedhe-nya jadi orang sukses. Banyak aku liat mereka yg masa kecilnya mbetik, ehh.. besarnya jadi orang sukses. Tapi gimana dengan aku? masa kecilku tidak mbethik-mbethik amat. Tapi aku yaaa.. berharap jg bisa sukses seperti mereka yg mbethik hahaha. Sebenarnya aku jg mbethik lho, cuman karena Bapakku orangnya kereng ( streng bahasa Jawa ), jadinya ya.. aku terkesan jadi anak manis. Yg nurut sama orang tua. Padahal aku tersiksa!! Maunya mbolosan (absen sekolah), tapi karena takut dijewer Bapak, yaaa.. aku pun nggak berani melakukan itu.
Jadi bisa dibilang aku jg termasuk anak mbethik. Berarti.. aku ntar jg sukses dong?!! Hehe Amin.
Jadi intinya, jika ingin sukses?? jadilah anak nakal…!! hahaha. Tapi ini mungkin sudah tidak berlaku bagi mereka yg usianya diatas 12 tahun. Karena sebutannya bukan anak nakal lagi, tapi orang nakal! Nggak lucu!!
November 26, 2007 pada 4:36 am
w setuju bnget tuh ma kata2 bagoes…cz cocok bgt ma perjalanan w saat ini w nak nakal tp w pengen sukses,kaya bagoes gutu dweh.mkch bgd to bagoes
Desember 5, 2007 pada 3:02 pm
kalo dibilang anak yang hiperaktif sama tidak yah? anak seperti ini biasanya cenderung mbethik dan annoying kata orang bule. logikanya anak yang seperti ini cenderung maju karena ga kenal malu. kalo bercermin di masa lalu dengan aturan budaya “jawa” yang kuat saya cenderung jadi sungkanan, hehehe.. bisa sukses ga ya? (lho kok jadi curhat). intinya saya setuju dengan “statment anak “nakal” biasanya sukses!”-asal ga kelewat nakal.
Desember 6, 2007 pada 2:02 am
Setujuuuuuuu…!!! karena saya jg Hiperaktif!!! kekeke