Benarkah hidup pilihan?

“Mulai bulan depan saya tidak mencuci baju Mas ficky.” Begitu bunyi sebagian SMS di HP-ku. Ternyata itu (SMS) dari mbak kos (pembantu ibu kos) yg biasa nyuciin bajuku. Berikutnya aku begitu serius membaca kata per kata dari SMS itu. Bukan kenapa, agak ngeri aja kalau alasan dia tidak mau meneruskan mencuci bajuku dikarenakan uang jasa yg kuberikan mengecewakannya -meskipun kadang aku memberikan tambahan dari ongkos semestinya-. Ternyata dugaanku salah!

“..saya sudah 1,5 tahun bantu ibu (kost), tapi dibayar 400rb saja. Belum lg dipotong 100rb karena anak saya juga ikut disini. Saya akan pindah kerja ke Sidoarjo Mas. Baju mas fiki nanti akan (diteruskan) dicuci Irma.” Begitu kurang lebih bunyi SMS itu.

“Hhhhh…” Aku menarik nafas dalam. Bukan shock karena harus mencari tenaga pencuci baju baru, tapi semata tidak tega melihat mbak kost-ku itu. Kebayang dia harus menanggung seorang anak (sekitar kelas 3 SD) dengan tanpa suami. Baru kebayang jg selama ini dia bertahan hidup dengan gaji hanya Rp.300rb di kota besar dengan menanggung seorang anak, tanpa suami pula. Ah hidup kadang tidak memberi pilihan..

Tinggalkan Balasan