Kesenangan itu tak lain Kesedihan

“Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka bekasnya. Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama. Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa, semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan.”

Dont-cry-baby

Kata-kata itu memberikan ketentraman buatku, setidaknya hari ini…

Hari ini… kembali menjadi hari lanjutan kesedihanku sejak awal bulan puasa. Entah kenapa beberapa hari ini, cobaan beruntun terjadi. Tapi khusus hari ini aku tahu betul penyebab kesedihanku. Hari ini aku kembali bertermu teman lama bernama “kegagalan”. Tadi siang aku gagal tes di sebuah perusahaan broadcast. Tidak seberapa aku inginkan sebetulnya untuk masuk perusahaan itu, namun dengan diterima disana aku berharap punya batu pijakan besar untuk melompat ke impian selanjutnya. Namun kenyataannya Tuhan berkehendak lain. HARI INI AKU GAGAL!

Kegagalan kali ini menambah deretan syok yg sering kualami. Bukan gagal menembus perusahaan itu yg membuat aku kembali tercengang-cengang seperti orang tolol, tapi satu pertanyaan keraguan kembali menohok “Masih yakin kamu bertahan di jalur ini?” ya, pertanyaan itu berkali-kali mengiang di telinga. “Sampai kapan kamu akan yakin, bahwa bekerja di media menjamin kehidupan layak?” “Terus kapan punya mobilnya??”  “Anakmu mau kamu beri makan apa?” begitu seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan itu yg membuatku terus bersedih hingga saat ini.

Ah, jadi ingin menangis. Menangis bukan karena meratapi kegagalan. Tapi meratapi diri yg sudah jauh ketinggalan dengan teman-teman seangkatanku yg sudah sukses di bidang lain. Teman-temanku di Bank, operator selular, dan bidang lain sudah dengan posisi yg tidak main-main. Ok, memang tidak semua punya jabatan penting, tapi at least dari mereka, kalau mau banding-bandingan salary, gajiku mungkin hanya separuh mereka. Tidak jarang jg bahkan aku hanya sepertiganya. “Ya Allah…. Astaghfirullah…” dosa rasanya diri ini dengan ketidakbersyukuran ini. Tapi SANGAT jujur Aku akui, Aku masih bisa sukses di “dunia” yg sejatinya berkah Allah buatku. Aku teramat yakin akan sukses dengan caraku. Bukan demi kesenangan diri sendiri yg aku harapkan jika aku sukses, melainkan demi anak-anakku kelak, keluargaku. Itu yg membuatku menangis.

Rasanya diri ini begitu egois dengan bersikukuh berkarir di dunia yg membuatku tergila-gila sejak SMA dulu. Andai orang-orang tahu, bukan kesenangan hati semata yg membuatku tetap bertahan berkarir di broadcast. Tapi semata, dengan (bekerja) di sini (media/broadcast), aku benar-benar punya percaya diri. Aku dibayar sesuai keringat yang aku keluarkan. HALAL. Di sini aku KUAT. Di sini aku TIDAK DIREMEHKAN orang lain. Di sini aku benar-benar merasakan betapa hidup tidak hanya urusan materi dan materi. Mereka tidak tahu bagaimana senangnya ketika Aku bisa memberikan pencerahan untuk orang lain. Membuka cakrawala banyak orang. Membantu orang lain. Karena hanya itu jawaban yg Aku punya manakala Yang Diatas sana menanyakan “Bermanfaatkah hidupku selama di dunia?”

Terima kasih untuk orang-orang yg sudah peduli denganku dan impian besarku tentunya. Tuhan membalas jasa kalian, pasti!

Tinggalkan Balasan