Cinta budaya Indonesia dari Hongkong!
Siapa Lebih Kaya, Indonesia Atau Malaysia? begitu sebuah headline di sebuah situs lokal beberapa hari lalu, saat “panas-panasnya” pemberitaan tentang klaim tari pendet oleh Malaysia. Memancing rasa ingin tahu tentunya. Apalagi mereka yg “terbakar” emosi karena klaim budaya Indonesia oleh “saudara”nya itu. Bahkan pemakaian kata “saudara” dalam postingan status FB saya waktu itu membuat para pembaca tidak terima (berasa nulis di koran yah saya? hahaa). “Saudara?” begitu rata-rata komen mereka. Malah ada yg lebih pedas dengan berkomentar seperti “Gue nggak mau punya saudara seperti Malaysia!”

Kembali ke membandingkan kedua negara ini, Indonesia dan Malaysia, lebih kaya mana? Kalau dilihat dari pendapatan kotor per kapita (Gross National Product atau GNP) Malaysia lebih unggul dibanding Indonesia, yakni US$ 13.740 per tahun. Sedangkan Indonesia HANYA US$ 3.830 per tahun atau setara dengan Rp 38 jutaan per tahun (berdasar data Bank Dunia pada 1 Juli 2009). Itu artinya Malaysia yang populasi penduduknya lebih rendah berpenghasilan 3,5 kali lipatnya dari Indonesia alias penduduknya lebih makmur. Tapi jika dilihat volume ekonomi secara nasional, Indonesia jauh lebih besar dibandingkan Malaysia. Artinya, dilihat dari sisi kekuatan ekonomi, Indonesia jauh lebih berpengaruh dibandingkan Malaysia. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia jauh lebih tinggi dibanding Malaysia. Indonesia berada di urutan ke-19 mengalahkan negara maju seperti Belgia, Swiss, Swedia, Norwegia, Denmark dan Arab Saudi. Dan hanya berada sedikit di bawah China, India, Australia dan Meksiko. Total PDB Indonesia berdasarkan data Bank Dunia lagi, yakni US$ 514 miliar atau sekitar Rp 5000 triliunan.Wow!!
Jadi sudah dapat disimpulkan, Indonesia jauh lebih kaya dari Malaysia. Kekayaan itu tidak hanya secara alam, bahkan dari sisi budaya kita jauh lebih tinggi dibanding “adik” kita itu. Tapi pertanyaannya, sampai kapan kita akan berharap dengan potensi besar tanpa pengelolaan yang baik?
Contoh simple soal budaya. Indonesia sangat kaya budaya, tapi pemerintahnya tidak pernah secara aktif memperkenalkan pada dunia Internasional. Malah Malaysia yang sangat gencar mempromosikan pariwisatanya. Jadi jangan heran jika Malaysia mendapat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) lebih tinggi dari Indonesia. Tahun 2004 Indonesia mendapat kunjungan 5,3 juta. Bandingkan Malaysia yg menembus angka 10,57 juta orang. Padahal jelas-jelas aset alam Malaysia tidak ada apa-apanya dibanding negara kita. Tahun 2005 malah kunjungan wisatawan ke Indonesia menurun. Tidak halnya dengan Malaysia yg begitu gencar berpromosi lewat iklan The Trully Asianya. Dari sini saja sudah ketahuan betapa bobroknya Indonesia (baca : Pemerintahnya).
Entah ini murni kebobrokan pemerintahnya, atau masyarakatnya juga yang tidak bangga budaya. Kita hanya berkoar-koar untuk mencintai produk dalam negeri, tapi tidak pernah bangga dengan produk kita tersebut. Sebagai contoh, waktu Aku pakai baju batik ke kantor. Eh ada yg bilang begini “Mau ke kondangan Pak?” Aku cuma membatin… “Yaelahhhh, Cinta Budaya Indonesia dari Hongkong??? pake batik aja NGGAK PEDE!!!”
Ngomong-ngomong… kok Aku jadi tergelitik ya dengan beberapa yang Aku pakai ternyata Malaysia punya, seperti nomor GSM dan nomor rekening! Susah jg mau ganti operator, orang-orang udah pada tau nomor Aku itu. Dan yg terakhir, no.rekening bank, mau ganti gimana orang payroll dulu transfernya ke rekening itu. Parahnya lagi, aku dulu kerja disitu!!! hahahaha…. MAAP ya, teman-teman yg kerja di Bank itu, tidak bermaksud menyinggung hati kalian. Just wanna share Alim Markus’s tagline.. Cintailah plodhuk-plodhuk Indonesia…
Oktober 24, 2009 pada 7:29 pm
sepertinya begitu kita terlalu dipermainkan oleh emosi, ambil nilai positif terhadap klaim dari malaysia..
I LOVE INDONESIA