“Pertengkaran adalah jarak paling jauh dari dua titik.”

Untuk sahabatku yang tanpa pernah lelah aku berdoa atasnya….

Kata apa yang menurut Anda paling tepat untuk mewakili sebuah kata “perceraian”? Bagi saya kata itu adalah “SHOCK”. Itulah yang mungkin paling mewakili suasana hati saya saat ini, kalau tidak mau dibilang saya sedih, speechless, mau nangis, marah, mau teriak, mau maki-maki orang dan puluhan perasaan berkecamuk lain. Bagaimana tidak shock, seorang sahabat yang selama ini sudah saya anggap sebagai saudara harus menghadapi sebuah “kata” yang selama ini sudah terlalu familier untuknya. Familier?? Ya! siapapun Anda yang orang tuanya atau mungkin pernikahan Anda sendiri bermasalah pasti sudah terbiasa dengan kata yang ‘luar biasa’ itu, CERAI!

SHOCK, karena sebuah solusi yang kami anggap “benar” itu adalah sebuah solusi tepat untuk pertegkaran yang tiada akhir. Jangan pernah menghakimi kami dan terlebih memberi sahabat saya itu dengan label “anak durhaka” karena menghendaki perceraian orangtuanya! Saya katakan sekali lagi JANGAN PERNAH! Maaf jika kali ini saya harus menggunakan huruf besar. Kenapa? karena Anda tidak pernah tau bagaiamana rasanya shock menerima telpon dari seseorang yang meminta saya meghubungi sahabat saya itu karena orang tuanya berada di kantor kepolisian. Karena Anda juga tidak tahu bagaimana rasanya duduk di kursi pickup mobil patroli polisi karena siapapun pasti akan berpikiran yang tidak-tidak terhadap orang yang duduk di atasnya! Saya cukup shock ketika sahabat saya SMS mengatakan terpaksa duduk di atas kursi mobil ber-plat abu-abu itu menuju kantor polisi karena dia dan sang ibu baru saja bertengkar hebat dengan ayahnya yang hendak membakar mereka. “Astaghfirullah….”

Love is Respect – CINTA ADALAH PEMUJAAN.
“Maka bagaimana mungkin orang yang  seharusnya memuja Anda, menyakiti Anda?” (Mario Teguh)

Saya terkadang tidak habis pikir megenai sebuah pertengkaran orang tua, yang biasa menjadi modal menuju perceraian. Kenapa mereka tidak dapat berkompromi dengan keadaan, dengan pasangan terlebih. Tidak usah terlalu naif berpikir “kenapa tidak inget masa-masa awal dulu?” tapi paling tidak cobalah berpikir bagaimana perasaan anak-anak, jika kita tidak ingin terlalu egois memikirkan diri sendiri. MAAF ini bukan kutukan bagi mereka yang bercerai atau baru akan, karena saya sendiri juga belum terlalu dewasa untuk itu karena belum mengalami bagaiamana peliknya urusan rumah tangga. Tapi sekedar mengingatkan kembali bukankah “Perkara (perbuatan) halal namun paling dibenci Allah SWT adalah perceraian?” Ah, saya terlalu hapal denga kata-kata itu!

“Fik, minta doanya, besok aku sama ibuku mau daftarin proses prceraian ibuku. Ini sudah keputusan final.”


SHOCK, rasanya membaca SMS itu lagi! Mau nangis, bukan karena saya mengkhawatirkan apa yang terjadi berikutnya. Namun karena kecewa apakah tidak ada solusi lain kecuali cerai?!

SHOCK, kembali shock! manakala ingat kata-kata seorang teman yang pernah meghadapi perceraian dengan mengatakan “I hate parents!!!”

Rasanya ingin berteriak ke mereka-mereka, para orang tua, yang tidak pernah memikirkan betapa mirisnya hati anak-anakya atas perceraian yang dilakukan oleh mereka. “Parentssssssss…. Helllloooo???” ini kami anak-anakmu yang tidak punya andil atas kesalahan yang kalian perbuat!

Ah, tiba-tiba aku pusing dan malas harus berpanjang-panjang dan membahas kata ini. Maaf saya sangat benci dan muak untuk menulis kata berikut :  C E R A I


Tentang Tuan Toshiro

penjelajah kehidupan

Satu Tanggapan »

  1. Alya Silmina Safna mengatakan:

    Mereka terlalu egois.. :( Tidak memikirkan perasaan anak-anaknya. Demikiankah dunia dewasa?? Aku benci mereka. Orang tua yang hanya memikirkan perasaan mereka sendiri !

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s