Apa syarat untuk menjadi seorang ibu?
Kalau untuk ukuranku sih dia harus bisa membuat anak-anaknya berani menatap masa depan. Terlalu luas & terkesan diplomatis? TIDAK JUGA. Bagi aku yang dilahirkan dengan kehidupan yang sedikit ‘sulit’, syarat tersebut adalah mutlak. Jujur saja, kalau mau banding-bandingan antara diri ini dengan teman-teman sebaya, bisa dibilang hidup yang kujalani cukup keras. Jika teman-teman SD, sepergaulan dan anak-anak tetangga lain bisa menikmati masa kanak-kanak dengan tawa riang serta celoteh khas anak kecil tanpa beban urusan orang tua, aku sejak kecil sudah terbiasa dengan urusan-urusan mereka. Sejak kecil sudah dicekoki dengan ribut-ribut urusan rumah tangga. Dan sejak kecil pula telingaku sudah terbiasa dengan ‘suara-suara’ : “Kamu beda dari dia, kamu tidak sama dengan mereka dan kamu bukan bagian dari mereka. Jadi tahu dirilah karena kamu memang berbeda!”
Ya, aku dibesarkan dengan perlakukan pembedaan. Meski orang tuaku tidak mengajarkan demikian tetapi di luar sana aku dihadapkan pada pemandangan nyata akan sesuatu yang dipaksakan secara tidak alamiah. Bisa dibayangkan jika aku tidak punya ibu yang bisa membuatku tetap optimis bahwa selebar apapun jurang pembedaan yang aku alami tetap harus dihadapi dengan jiwa besar. Sebesar apapun problem hidup, tetap harus ditatap dan ditaklukkan! Bisa dibayangkan jika Tuhan tidak memberikanku seorang ibu dengan kriteria itu??
Kriteria lain? Mungkin dia harus punya mimpi besar! Sedikit cerita tentangku dan alasan-alasan kenapa orang-orang di sekitarku menilaiku sebagai orang dengan bara optimisme yang tak pernah redup. Semata setiap aku berangkat sekolah, ibu selalu menciumku dan mengatakan : “Jadi bintang kelas ya!” Meski selama SD aku tidak pernah 5 besar! Tetapi kata-kata itu telah membius alam bawah sadarku untuk membisikkan optimisme bahwa dalam hidup harus menjadi pribadi yang ‘tidak rata-rata’. Pribadi yang tidak standar! Prestasi di atas rata-rata kebanyakan orang. Dan benar saja, di otakku selalu tertancap itu. Lihat
bagaimana cara kerja kalimat itu. Bisikan ibu setiap kali aku akan berangkat sekolah itu telah menjelma menjadi sebuah konsep berpikir bahwa (kesempatan dalam) hidup jangan disia-siakan untuk hal-hal yang biasa-biasa saja. “Masa seumur-umur tidak ada satu karya pun yang keluar dari tanganku?” Pikiran ini
kemudian mengkristal menjadi sebuah kenekatan yang menghasilkan sebuah karya yang aku yakin masih belum apa-apa dibanding (milik) orang lain. Tepat tanggal 21 September 2011 lalu, dilaunchinglah sebuah buku yang keluar sebagai bentuk terima kasih atas dedikasi besar terhadap dunia yang telah membesarkan namaku, Radio. Buku itu : “Radio Makes Me Horny! Kisah 9 penyiar radio kondang”.
Itu bagi aku. Bagi orang lain tentu saja tidak sama. Bisa jadi seorang ibu harus bisa menjahit karena untuk beli baju di toko mahal karena di luar jangkaunnya.
Mungkin juga seorang ibu harus kuat mengipas berjam-jam karena anaknya selalu terbangun tiap malam karena kegerahan dan ia harus mengipasinya.
Pun tidak menutup syarat, seorang ibu harus bisa menjadi jasa ‘Laundry Gratis’, ‘Koki Gratis’, ‘Perawat Gratis’, ‘Tukang Pijat Gratis’, ‘Dokter Keluarga Gratis’ dan segala layanan jasa berembel-embel gratis lain untuk suami & anak-anaknya.
Atau bisa saja syarat ibu harus bisa membuat Pancake? seperti cerita seorang teman yang habis melahap pancake kesukaannya yang ia beli dari sebuah gerai pancake ternama di Jakarta. Saking sukanya ia dengan penganan yang satu ini sampai-sampai kalau beli harus dari gerai pencake ternama di Jakarta itu.
“Kayak apa sih rasanya sampai kau begitu menyukainya?” tanyaku.
“Uhm gimana ya, enak sih, nggak kayak pancake kebanyakan. Tiap kali pengen pancake gue selalu (datang) ke tempat ini. Tapi kalau dibilang paling enak ya pancake bikinan Nyokap! Apa ya, pas banget gitu gurih dan manisnya!”
Selamat Hari Ibu..
Untuk Ibundaku, Hj. Hanifah Hasan & Ibu di seluruh dunia.. You are AMAZING!

